HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia) Komisariat Bali Jumat(04/12) mengadakan kumpul-kumpul untuk anggota dan pengurusnya di sekretariatnya Jl. Sekar Jepun No.4 Denpasar. Tujuannya disamping perkenalan kantor, juga untuk sekedar sharing antar anggota mengenai hal-hal yang berhubungan dengan profesi Civil Engineer di masa kini.
Tokoh Structural Engineer di Bali yang hadir berasal dari berbagai kalangan baik dari akademisi maupun praktisi Structural Engineer yang tidak asing lagi, diantaranya adalah Pak Made Sukrawa, Pak Nyoman Sutarja, Pak Ketut Ardhana, Pak Wayan Dana , Pak Rudi (PT. Satria Cipta) dan lainya.
Suasana penuh keakraban, penuh canda dan tawa (tetapi tetap saja kelihatan serius..he..he), maklumlah diantara anggota banyak sudah saling mengenal sebelumnya. Banyak hal yang diperbincangkan, mulai dari geliat dan kiprah organisasi HAKI komda Bali ke depan, uneg-uneg dan permasalahan yang dialami di lapangan, sampai pada perbincangan “celah bisnis” yang mungkin….he..he.
Topik yang cukup penting yang diperbincangkan adalah mengenai nasib Structural Engineer di masyarakat. Pak Ketut Ardhana yang selama ini dikenal sebagai praktisi di bidang konsultansi dengan spesialisasi Structural Engineer yang sudah banyak dikenal dikalangan Ekspatriat dan pemilik project asing mengungkapkan beberapa realitas yang dijumpai di lapangan. Dikatakan bahwa posisi tawar Structural Engineer di Bali masih sangat rendah bahkan masih dikelompokkan sebagai masyarakat profesional kelas dua. Profesi structural engineer masih belum bisa diandalkan untuk bisa hidup layaknya profesi lain, bahkan dilontarkan pernyataan bahwa di Bali tidak ada Badan Usaha yang bisa hidup dengan murni sebagai Structural Engineer saja. Hal tersebut diakibatkan karena profesi structural engineer sering dianggap hanya sebagai profesi “tukang hitung” saja, padahal sebenarnya seorang engineer adalah “designer” dengan tanggung jawab seumur hidup dan pantas dihargai sama dengan profesi lain misalnya arsitek atau dokter.
Kenapa semua itu terjadi,….Pak Made Sukrawa mengemukakan beberapa alasan diantaranya karena kurangnya publikasi diri seorang Engineer, kurangnya keberanian mendobrak sistem dan dogma-dogma lama, tingkat tantangan Structural engineer di Bali yang tidak begitu besar untuk menempa diri, dan yang terpenting (dan ujung-ujungnya ini lagi….) adalah peraturan yang berlaku di sistem pemerintahan kita. Dicontohkan pada proyek pemerintah khusunya di Bali, paket2 proyek perencanaan/design dikemas kedalam satu paket dan selanjutnya diserahkan ke sebuah konsultan umum yang sudah mencakup perencanaan arsitektur, sipil bahkan sampai Mecanical Electrical. Terang saja yang pertama kali diperlukan adalah tenaga ahli yang notabene berhubungan dengan konsep yaitu arsitek (maaf bukan bermaksud membuat dikotomi Arsitek-Sipil).
Masalahnya setelah design arsitektur selesai, pekerjaan struktur juga dikerjakan oleh konsultan tersebut yang memang boleh mempunyai tenaga ahli Sipil juga (walaupun banyak diantaranya yang hanya tercantum nama saja..he..he). Mungkin ceritanya akan jadi berbeda jika sebuah proyek diserahkan kepada ahlinya masing-masing, demikian juga dengan Konsultan Perencana tidak boleh mencakup semua disiplin ilmu teknik kedalam suatu badan, biarlah konsultan bangunan itu memiliki spesialisasi tertentu saja misalnya Konsultan arsitektur, Konsultan Sipil, Konsultan Mekanikal & Elektrikal dan lain-lain. Jadi setiap proyek pemerintah akan ditangani oleh beberapa Konsultan dengan spesialisasi masing masing (biar panitia proyek repot dikit..he..he ) seperti halnya project2 swasta (asing) yang sudah melimpahkan setiap pekerjaan masing-masing kepada ahlinya, disinilah setiap profesi dihargai secara proposional sehingga produk yang dihasilkan bisa terjamin baik.
Pertanyaanya apakah asosiasi profesi HAKI nggak bisa memberi sedikit presure untuk mengubah sistem tersebut?….Yah, berat juga nih..!
Wah topik yang melelahkan, ceritanya bisa panjang dan muter-muter ….!!!
*(Foto dicomot dari sini)
Minggu ini adalah musim Ujian Tengah Semester di lingkungan pendidikan tinggi, beberapa kampus menyelenggarakan UTS secara serempak untuk seluruh fakultas yang ada dibawah naungannya, sedangkan sebagian kampus lainnya menyerahkan kepada dosen pengajar mata kuliah masing-masing untuk menentukan waktunya.
Dilingkungan kampus saya yang menyelenggarakan UTS secara serempak, Nampak sekali perbedaan suasana kampus dengan hari-hari yang lain, suasananya yang lebih semarak, lebih ramai dari biasanya dan dengan warna yang lebih seragam, maklumlah untuk mengikuti UTS mahasiswa diharuskan menggunakan atribut almamater termasuk jas almamater. Lebih ramainya suasana kampus disampaing karena mahasiswa masuk secara bersamaan, sudah bukan rahasia lagi kalau ada sebagian mahasiswa yang kehadirannya di perkuliahan sehari-hari sangat jarang dan hanya masuk pada saat ujian untuk mendapatkan nilai yang disyaratkan untuk kelulusan….hah..!
Kebetulan tradisi sistem pengawasan UTS dikampus saya disilang antar fakultas, maksudnya dosen-dosen disebuah fakultas ditugaskan mengawasi UTS di fakultas lain. Sebuah metode yang bertujuan mulia dan ideal untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan.
Mendapat tugas mengawas di fakultas lain (yang kebetulan adalah Fakultas yang menjadi ikon Almamater), saya berfikir bahwa semuanya harus berjalan dengan ideal, melaksanakan pengawasan dengan disiplin dan tertib untuk menjamin bahwa mahasiswa memang harus belajar untuk mendapat nilai yang baik. Ketika baru masuk ruangan di hari pertama tugas mengawas, saya melihat suasana ruangan yang cukup baik, kehadiran mahasiswa benar-benar seratus persen lengkap dengan atribut dan persyaratan yang diwajibkan dan dengan posisi tempat duduk sesuai nomor absen mahasiswa… ini benar-benar disiplin pikirku..! + READ MORE
A: Wah dapat banyak proyek tahun ini Pak?, papan nama perusahaannya tersebar dimana-mana ….
B : Ah, nggak juga kok, kebanyakan dipinjam, yang dikerjakan sendiri cuma satu proyek……… Bapak nangani berapa kerjaan?
A: Saya malah nggak dapat tahun ini, hanya dipinjamkan saja ….
Itulah isi percakapan dua orang pemimpin Perusahaan pada sesi rehat kopi suatu acara yang digelar sebuah asosiasi profesi. Isi percakapan yang ringan tanpa beban, datar dan biasa-biasa saja, seakan sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa terdengar. Yang diperbincangkan adalah perihal proyek dan “Pinjam Bendera ( istilah untuk peminjaman badan hukum perusahaan untuk mengambil proyek) dan itu adalah sesuatu yang tidak lagi tabu dikalangan mereka padahal mereka tahu kalau hal itu tidak dibenarkan dari sisi manapun.
Pada hakikatnya, peminjaman bendera bisa disebabkan berbagai hal misalnya seseorang yang karena punya kedekatan dengan seorang pejabat pemilik proyek ditawari (atau meminta) untuk mengambil proyek padahal dia tidak memiliki perusahaan berbadan hukum seperti yang dipersyaratkan dan sebenarnya tidak memiliki kapasitas untuk mengerjakannya, maka dia menghubungi kenalannya yang punya perusahaan dan akhirnya dengan fee sekadarnya, si pemilik perusahaan mau meminjamkannya jadilah proyek itu dikerjakan seadanya, yang penting diterima walau kualitas dinomorduakan, demikian juga si pemberi proyek, karena rekomendasinya dari mereka sendiri ya pasti diterima saja dengan membuta karena sudah “tahu sama tahu” atau karena rasa ewuh pakewuh pada orang yang mengambil itu.
Kasus lain yang terjadi adalah saling meminjam ( bertukar) perusahaan antara sesama pemilik perusahaan sejenis, maksudnya hanya untuk menghindari kesan monopoli oleh orang tertentu pada suatu “lahan”. Kalau yang ini sih masih mendingan karena mutu hasil pekerjaan akan lebih baik karena yang meminjam adalah kalangan profesi yang sama. + READ MORE
Bulan Juli, tepatnya tanggal 23 kita selalu diingatkan pada Hari Anak Nasional, sebuah momentum yang seharusnya selalu diperhatikan para orang tua di negeri ini. Hakikatnya bukanlah sebuah seremonial yang mesti dilaksanakan tetapi merupakan sebuah refleksi dari pengharapan yang sebenarnya ingin dicapai oleh semua orang tua terhadap anak-anak mereka. Bagaimana kita diingatkan kembali pada motivasi diri bahwa ada sebuah harapan yang menunggu dan memerlukan perhatian kita untuk bisa meraihnya melalui anak-anak kita dimasa depan.
Terkesan puitis, tapi itulah kata yang saya rasa tepat untuk digunakan…..Tidak berbeda dengan dengan para orang tua umumnya, tentu saja dalam hati saya patrikan bahwa anak adalah satu-satunya tumpuan hidup saya kelak, penerus hidup saya hari ini dan pemikul segala tanggung jawab yang semestinya saya penuhi di masa kehidupan saya. Sebenarnya begitu berat mandat yang nantinya kita limpahkan kepada mereka oleh karena itu kita diwajibkan pula untuk mempersiapkannya, membuat pondasi yang kokoh, membuat mereka siap dan tegar memikul tanggung jawab yang akan kita limpahkan. Sebuah tahapan baru dari perjuangan panjang juga sedang kami mulai saat ini, memberikan pendidikan usia dini kepada anak saya yang pertama dengan mengirimkannya ke sebuah sekolah TK. Tentu saja ada nuasa baru dari hari-hari yang kami jalani bersama, kebiasaan yang agak berbeda dari sebelumnya dengan kesibukan yang bertambah tentunya, tetapi ada kenikmatan lain yang yang terasa ketika melihat kebiasaannya setiap bangun di pagi hari yang berubah, kenikmatan melihat penampilannya yang menggemaskan dan tentu saja ada tuntutan bahwa kesabaran mesti lebih dari biasanya….yah, seperti itulah gambarannya, mungkin saja orang tua yang mempunyai anak yang sudah remaja atau dewasa berbeda lagi yang dirasakan dan dijalani. Semua daya dan usaha memang wajib kita upayakan untuk mempersiapkannya, sekecil apaun kita mampu tetap berarti asalkan semua itu adalah upaya kearah yang benar walaupun dengan sumber daya yang terbatas dan disesuaikan dengan keadaan diri kita dari tingkat ekonomi .Yang dimaksud adalah bagaimana kita memberikan yang terbaik dengan tetap mengukur kemampuan baik diri sendiri maupun kemampuan anak tanpa memaksakan kehendak. Misalnya saja dalam memberikan pendidikan usia dini kepada mereka, saya berpendapat bahwa kita tidak perlu memaksa diri apalagi untuk mengejar prestise dengan mengirimkan anak-anak kita ke tempat belajar yang super mewah dan mahal yang belum tentu menjamin bahwa anak akan menjadi lebih unggul, justru yang lebih penting adalah bisa membuat anak menjadi tumbuh sewajarnya baik dari segi fisik maupun mentalnya adalah yang terbaik. Kita cukup memilihkan mereka tempat dan sarana sesuai dengan kemampuan kita dan bakat mereka tanpa paksaan apapun sehingga mereka tidak menjadi generasi karbitan.
Setengah tahun sudah blog ini tidak disentuh, entah karena sebab apa saya juga nggak ngerti, entah dari mana datangnya rasa malas untuk sekedar menengok apalagi mengisi blog ini dengan sesuatu walaupun sebenarnya ada hal yang seharusnya menarik untuk diceritakan semasa kurun waktu tersebut, baik mengenai diri sendiri, keluarga dan lingkungan, bahkan tentang cerita bangsa yang sedang menggelar pesta demokrasi mulai dari hingar bingar pemilu legislatif yang diwarnai tawa dan kecewa para pesertanya, Pemilu Presiden yang penuh intrik dengan hasil yang fantastis sampai khabar terbaru hari ini dari ibu kota, teror bom yang mengguncang lagi dan membelalakan mata, masih banyak hal yang sebenarnya bisa dicoretkan….yah,walau sekedar dicoretkan!
Sungguh tidak bisa mengerti dan tidak bisa dibahasakan kenapa begitu malas, padahal kalau dilihat frekuensi online malah lebih tinggi dari sebelumnya.
Saya tidak mau mengkambinghitamkan meledaknya penggunaan situs-2 jejaring sosial macam Facebook, Twitter, Tagged, Flixster, Hi5 dan sejenisnya karena saya memang bukanlah termasuk pecandu situs-situs tersebut walau tetap ikut-ikutan bikin account. Kalau diingat-ingat aktifitas yang paling banyak dilakukan selama ini hanyalah memelototi email yang datang dari beberapa milis dan email yang berhubungan dengan kewajiban rutinitas kerja. Terkadang malah nyasar tak karuan mengikuti link2 yang diikutkan dalam email tersebut sampai lupa waktu, (wah…sungguh aktifitas yang tidak produktif.) Hal lain yang kulakukan adalah melihat beberapa portal berita, kalau yang ini sih mungkin saja bisa memberi sedikit manfaat…
Sebenarnya dari pertama kali kenal dunia maya khususnya blog, ada angan-angan untuk dapat menuangkan berbagai hal kedalam sebuah postingan, tentang apa saja yang terlintas dipikiran dan tentang apa saja yang sudah dilalui dan dialami sendiri atau orang lain(bukan gosip loh), terlepas dari itu bermanfaat maupun tidak, informatif atau tidak, mendidik atau tidak, syukur-syukur bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri atau orang lain. Padahal sering juga melihat dan mendengar ungkapan bahwa tulisan adalah sesuatu yang jauh lebih abadi dibandingkan dengan ingatan atau cerita lisan, bahkan ungkapan bahwa ” kita ada jika kita sudah mempublikasikan diri “- (ini sih kejauhan dan klise…he..he ) . Tetapi kenapa semua itu hanya tekad dan impian, kenapa tidak pernah dijalankan, …..Setelah dipikir-pikir, jawabannya hanya satu kata “MALAS”, itulah yang jadi biangnya….tentu saja ada seribu alasan yang dibuat, dicari-cari dan diajukan untuk sekedar membenarkannya.
Ah sudahlah…, kalau itu diulas bisa tambah panjang dan tentu saja pada akhirnya akan menghakimi dan menghukum diri sendiri..nggak ah…!
Hari ini kucoba untuk kembali lagi, belajar menulis dan menulis, walaupun itu tulisan sampah, tulisan tak bermanfaat, ataukah ide-ide yang mungkin saja suatu saat bisa berguna. Semoga bisa bangun lagi..!
* Catatan Seminar di Teknik UNHI.
Suatu masalah ditinjau dari kaca mata yang berbeda tentu saja kelihatan berbeda, sebuah pandangan pasti tidak benar secara mutlak. Masing-masing pihak harus mau fleksibel agar bisa didapat solusi yang terbaik.
Seperti mengemuka dalam seminar di Kampus UNHI kemarin yang mengambil Tema “Jalan Layang di Bali ditinjau dari aspek teknologi, Agama dan Budaya”. Bagaikan dialog dua idealisme dari dunia yang berbeda “Teknokrat dan budayawan” yang sangat sulit untuk mencapai titik temu, masing-masing memberikan pandangan berdasarkan keahliannya. Sebagai pembicara dalam seminar tersebut pihak Teknokrat diwakili oleh Ir. Tjok Raka Sukawati IPM (Sosrobahu), sementara dari budayawan dan agamawan oleh Drs. IB Agastia, ditambah dari pihak birokrat sebagai penentu kebijakan yang diwakili oleh Ir.IB Sidartha MT (PU Bina Marga) dan Ir.Ketut Arsana Laga (Bapeda).
Isu yang dibahas sebenarnya adalah isu yang sudah cukup lama yaitu masalah kontroversi rencana pembangunan jalan layang di Bali. Kalangan budayawan dan agamawan berpandangan bahwa dengan dibangunnya jalan layang, kesucian dan kesakralan budaya Bali (yang notabene bernafaskan Hindu) akan hilang. Segala sesuatunya akan tergusur oleh kehidupan serba modern dengan kemajuan teknologinya, filosofi kehidupan masyarakat Bali yang sudah diwarisi turun temurun akan lenyap, padahal menurut IB Agastia sebenarnya pemikiran leluhur masyarakat Bali zaman dulu sudah melampaui kehidupan modern saat ini maksudnya pemikiran leluhur masyarakat Bali sudah jauh memperhitungkan terjadinya modernisasi yang akan terjadi . Dicontohkan dengan penerapan pada bidang arsitektur Bali, Perencanaan Tata ruang dan lain-lain yang segala sesuatunya berdasarkan pada Tri Hita Karana yang mengarahkan untuk selalu menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan hubungan sesama manusia.
Setelah sekian lama akhirnya habis juga kesabaran saya melihat blog yang selalu down , beberapa lama jadi malas buka blog, setiap akses Firefox selalu pesan error yang muncul (maklumlah blog ini saya setting sebagai default access when Firefox start …).
Seperti yang dialami Bli Pande dan Bli Devari, sejak setahun lalu Rakhahost adalah tempat hosting saya, walaupun beberapa kali mengalami kejadian down server, saya tetap sabar dan belum berfikir untuk segera pindah Hosting, namun akhir-akhir ini sepertinya Rakhahost sudah tidak mempedulikan customernya, email dan telepon sudah tidak diindahkan lagi, sepertinya team admin Rakhahost sudah tidak ada lagi, ..yach…..akhirnya saya putuskan “bye..bye Rakhahost “.
Sehubungan dengan akan expired-nya domain http://yanartana.com ini, dimana saya harus segera update lagi maka saya langsung teringat dan akses tempat saya beli domain dulu di Bali Intermedia Utama. Saya pikir lebih baik langsung hosting disitu saja sekalian (biar urusannya nggak ribet soal transfer dan lainnya…he..he).
Benar saja akhirnya setelah order dan konfirmasi, Mas Eddy (pemilik Bali Intermedia) segera menindaklanjuti dengan mentransfer hosting saya ke Bali Intermedia.
Sempat was-was juga dengan proses transfer tetapi akhirnya dengan bantuan Mas Eddy, blog bisa dipindahkan tanpa masalah…Ini suatu contoh service yang memuaskan..!
Sekali lagi terimakasih Mas Eddy!
Mudah-mudahan dengan ini saya jadi rajin update blog…..…!!
Special,… Pakai telor?….he..he ..ya nggak lah..!
Beton spesial yang dimaksud adalah jenis beton selain beton normal seperti yang umum dijumpai sehari-hari yang biasanya terbuat dari campuran semen Portland dan agregat alami dan dibuat secara konvensional
Beton spesial mempresentasikan kemajuan teknologi beton yang dikembangkan untuk menanggulangi kekurangan yang dimiliki beton normal.
Beberapa jenis beton yang bisa dikategorikan sebagai beton spesial diantaranya adalah :
1. Beton Ringan (Lightweight Concrete)
Dibuat dengan menggunakan agregat ringan atau dikombinasikan dengan agregat normal sedemikian rupa sehingga dihasilkan beton dengan berat isi yang lebih kecil (lebih ringan) daripada beton normal. Berat isi beton ringan mencapai 2/3 dari beton normal. Tujuan penggunaan beton ringan adalah untuk mengurangi berat sendiri dari struktur sehingga komponen struktur pendukungnya seperti pondasinya akan menjadi lebih hemat.
2. Beton mutu tinggi (High Strength Concrete)
Beton dengan kuat tekan yang lebih besar dari 40 MPa sudah bias dikategorikan sebagai beton mutu tinggi.
Beton ini dikembangkan untuk membuat struktur yang menuntut tingkat kepentingan yang tinggi misalnya bangunan2 dengan tingkat keamanan tinggi seperti jembatan, gedung tinggi, reaktor nuklir dan lain-lain.
3. Beton dengan workabilitas tinggi (High Workability Concrete)
Umumnya tingkat kesulitan dalam pengerjaan beton dikaitkan dengan tingkat keenceran campurannya atau kemampuannya mengalir (flowing consistency), semakin encer beton akan semakin mudah dikerjakan.
Tetapi jangan salah, encer yang dimaksud bukan semata encer karena diberi banyak air, justru dengan kebanyakan air mutu beton akan semakin rendah karena material penyusunya bisa terpisah-pisah (segregated).
Yang dimaksud disini adalah beton yang mudah mengalir tetapi tetap memiliki mutu yang baik seperti beton normal atau mutu tinggi.
4. Beton Serat (Fiber Reinforced Concrete)
Adalah beton yang materialnya ditambah dengan komponen serat yang bisa berupa serat baja, plastik, glass ataupun serabut dari bahan alami.
Walaupun serat dalam campuran tidak terlalu banyak meningkatkan kekuatan beton terhadap gaya tarik, perilaku struktur beton tetap semakin baik misalnya meningkatkan regangan yang dicapai sebelum runtuh, meningkatkan ketahanan beton terhadap benturan dan menambah kerasnya beton. + READ MORE
Seperti pada postingan sebelumnya, Structural Engineering software hanyalah sebuah alat bantu yang digunakan untuk keperluan design struktur suatu bangunan sipil dan bukanlah dewa yang kebenarannya mutlak, sehingga setiap outputnya harus diterima dan diaplikasikan dilapangan.
Yang lebih penting adalah pemahaman pada philosofi ilmu yang mendasarinya dan pengetahuan yang didapat dari pengalaman pada kasus yang sebenarnya.
Pernyataan diatas bukan berarti mengharamkan penggunaan Structural Engineering Software, apalagi dengan adanya kemajuan teknologi komputer, memang seharusnya kita bisa mengambil manfaatnya untuk kemudahan hidup.

Hanya saja kita memang diharuskan bisa memverifikasi validitas keluaran suatu program komputer berdasarkan pada logika dan kaidah yang ada, dan sebuah software bukanlah blackbox yang tidak perlu diketahui proses dan prosedurnya
Dewasa ini sudah sangat banyak bertebaran program-program komputer rekayasa teknik yang bisa dijumpai di internet maupun offline, baik yang diberikan secara gratis maupun dengan sewa lisensi yang sangat mahal, baik yang berukuran kecil dan kompatibel sampai yang kompleks dengan fasilitas yang canggih.
Setiap software memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing karena pada dasarnya sebuah software akan dibangun berdasarkan pada tujuan tertentu yaitu untuk menyelesaikan permasalahan yang khusus misalnya ada software yang khusus dan baik digunakan untuk keperluan penelitian dan ada juga yang praktis untuk aplikasi di proyek. Sepengetahuan saya, masih jarang dijumpai software yang multipurpose dengan sama praktisnya.
SANSPRO merupakan salah satu karya dari anak bangsa yang cukup membanggakan ditengah maraknya software Structural Analysis luar negeri yang semakin canggih dan beragam. Barangkali bisa menjadi salah satu alternatif pilihan bagi kalangan Engineer di Indonesia yang kebanyakan masih sulit menjangkau lisensi penggunaan Sofware luar yang harganya masih sangat tinggi.
Pada tahun 1997 SANS versi Windows (SANSPRO) yang merupakan pengembangan dari SANS/89 yang ditulis oleh Nathan Madutujuh pada tahun 1988 dipublish ke masyarakat dan kini sudah banyak digunakan oleh kalangan insinyur baik di dalam maupun luar negeri.
SANS/89 dan SANSPRO merupakan hak cipta milik Engineering Software Research Center (ESRC) dan didistribusikan oleh PT. Anugrah Multi Cipta Karya, Indonesia. Saat ini pengembangannya sudah sampai pada Versi 4.8.
Pengembangnya mengklaim bahwa SANSPRO memiliki keunikan dibanding dengan Software yang sejenis yaitu dapat berjalan pada semua sistem komputer, berukuran sangat kompak dan mampu menghitung struktur bangunan sipil seperti balok, rangka, portal, shearwall, flat slab, shells, tower,bridges dan lain-lain dengan cepat berkat sistem management memori virtualnya.
Seperti kebanyakan Structural Analysis Software sejenis dari luar negeri yang sudah sangat populer semacam SAP2000, ETABS, STAAD, dan lain-lain, SANSPRO juga berbasis finite element yang merupakan suatu metode numerik (pendekatan) sehingga ketelitiannya sangat tergantung dari jumlah elemen yang digunakan untuk itu diperlukan meshing yang cukup dalam pemodelannya, tetapi hal tersebut bukanlah suatu masalah dengan kemajun teknologi komputer saat ini.
Yang cukup menarik bagi kalangan Structural Engineer “praktisi” adalah SANSPRO berorientasi pada modelling, analysis, design, volume and cost calculation dan drawing generator, sebuah integrasi yang lengkap antara CAD(Computer Aided Design), analysis program, database, spreadsheet dan word processing untuk kebutuhan suatu proyek.
Dengan fasilitas grafis 3D yang kini dimiliki, SANSPRO bisa dijadikan alat bantu dalam analisa dan design struktur secara lengkap sampai dihasilkan gambar struktur, bahkan estimasi biaya komponen struktur suatu project sehingga bisa dikatakan bahwa software ini adalah software yang aplikatif. Tampilan interface dari SANSPRO cukup menarik dan memudahkan dalam pemodelan dan eksekusinya, dengan layout Oriented Modelling concept , masing-masing elemen struktur seperti balok, kolom dan pelat bisa diatur dalam setting layout yang berbeda-beda (untuk masing2 tingkat/lantai bangunan).
Untuk keperluan design, pada Versi 4.8 sudah tersedia fasilitas concrete design, steel design, spread footing dan pile/bored pile dan steel connection design dan sudah mengacu pada peraturan yang umum digunakan seperti ACI, IBC, AISC -LRFD maupun ASD dan peraturan Beton dan Gempa Indonesia Tahun 2003. Masih banyak lagi fasilitas yang sepertinya menantang untuk di eksplorasi sampai fasilitas pembuatan gambar detail dan perhitungan volume beserta biayanya.
Tapi sekali lagi semuanya adalah alat bantu yang bisa kita gunakan untuk mempermudah pekerjaan kita, dan bebas kita pilih sesuai dengan kepentingan masing-masing.
Selamat mencoba!