Tulisan lain yang terkait

19 Comments Received

pande baik
December 19th, 2008 @10:16 pm  

Tema ini sempat disinggung pula saat perkuliahan di Teknik Sipil Pasca. Waktu itu kebetulan Pak Tjok Sukawati tumben bersedia hadir di awal pertemuan kuliah, pas awal semester. Tapi bukan penyampaian materi, malah kami ngobrol kesana kemari dari topik ‘krematorium’ bagi umat Hindu yang tidak ingin menghabiskan banyak waktu dan biaya, selain menghindari konflik adat, perubahan perliaku manusia Bali yang mulai meniru pendatang hingga menjadikannya Tersangka pembunuhan, sampe ke Tiang pancang Sosrobahu yang menemukan angka 78 sebagai titik kritis.
Terakhir ya tema jalan layang atau jalan bawah tanah. 2 alternatif yang ternyata keduanya ditentang oleh para pakar agama dan budaya. kalo jalan layang, seperti yang bli uraikan diatas, sebaliknya jalan bawah tanah katanya menyalahi ‘tri hita karana’ yang menyelarasan diri dengan lingkungan dalam hal ini pertiwi (tanah).
Pak Tjok cuman bisa geleng-geleng waktu itu.
Sedangkan saat ditanyakan balik, solusi apa yang sebaiknya diambil oleh para pakar agama dan budaya, jika 2 alternatif tadi ditolak, mereka tak mampu menjawabnya.
He….

iik
December 20th, 2008 @12:39 pm  

yup! masalah yang pelik memang, di satu sisi kita menginginkan solusi tapi di lain pihak kita mlah menemukan masalah yang tidak mudah untuk ditangani oleh orang minoritas seperti kita.

saya setuju dengn pendapat bli, bahwa kesucian itu datang dari kesadaran diri sendiri yang sebenarnya hal tersebut tidak perlu diperdebatkan, jika semua orang berpikiran seperti itu tidak ada cerita seperti kasus perkelahian adat karena masalah tanah dsb.

kalo emang gak setuju, dibawa keatas, kenapa gak dibawa kebawah aja jalannya (lebih mahal ya biayanya? hehehe). eh ik baru tau dari bli pande ternyata gak dikasik juga dibawa kebawah, emang pak tjok dapat ngomong gitu ya? wah bearti ik pas tu lagi nglindur mungkin, hehehhe..

duh susah emang menyatukan 2 pendapat, mending ada ujung atau solusinya, ini gak juga, hehehe…

bt
December 21st, 2008 @5:23 am  

tentang jembatan layang? Rasanya memang pada beberapa titik tertentu memang sudah diperlukan. Malah, Sangat diperlukan. Perkembangan bali teramat sangat pesat dalam satu dekade ini. Di bidang transportasi? itu sangat mencolok. Banyak orang tau itu, tapi tak banyak yang mengambil tindakan.

Dari artikel artana diatas, jelas sekali orang-orang yang pro-pembangunan jalan layang, adalah orang yang berfikir teknis yang pokok idenya behulu pada perancangan fasilitas transportasi, sementara yang menentang banyak berasal dari user sarana transportasi.

Sebenarnya bisa dicari win-win solution juka memang mau, misalnya perbaikan sarana angkutan umum. Beberapa tahun lalu (90an), pak rumawan salain pernah mengusulkan penggunaan trem sebagai angkutan masal yang sesuai dengan situasi jalan di bali. Tapi ide itu mentah. Dan, seperti kita tau, angkutan umum tak pernah diperhatikan.

Dari debat dua pemikiran atau dua idealisme dalam bahasa artana, pertanyaan sederhana perlu dikemukakan. Terhadap persoalan yang ada, lebih baik diam tanpa jawaban atau melakukan sesuatu untuk mengatasinya?

*Sementara kita hanya bisa bengong melihat perubahan…!

wira
December 22nd, 2008 @10:24 am  

satu kata, dilema

a!
December 23rd, 2008 @12:50 am  

kalo aku kok cenderung sepakat dg adanya jalan layang, gedung bertingkat, dst. dg catatan semua dalam proporsi yg wajar.

aku yakin budaya bali tidak akan hilang hanya gara2 bangunan2 semacam itu. itu ketakutan yg berlebihan. yg lebih penting sebenarnya kesadaran utk menjaga perilaku daripada trlalu takut pada teknologi.

lihat saja kayak di jepang. kurang modern apa mereka, toh, mereka msh teguh dg budayanya. malah budaya mereka jd trendsetter di dunia. lagian budaya toh juga dinamis. tidak mati di satu titik.

bali yg kita kenal saat ini bukan titik. dia koma. selalu ada lanjutan setelahnya. lihat saja di kuta. di tengah hedonnya, toh, warga adat masih khusyu di pura. di antara bule2 berjemur toh masih banyak orang melasti. dan seterusnya..

jd silakan bergerak maju. asal jangan kebablasan..

*Setuju bli Anton!

devari
December 24th, 2008 @5:50 am  

jalan layang memang sebuah solusi. namun bukan merupakan solusi mendesak, setidaknya untuk saat ini. jika dipaksakan juga? kelihatan sekali bahwa kita ini ‘pemalas’ yang maunya solusi singkat dan instant saja. jika intinya mengatasi masalah kemacetan dan sejenisnya, masih ada aspek lain yg bisa dimaksimalkan untuk menjadi sebuah solusi.

*Intinya adalah upaya realistis untuk menanggulangi masalah transportasi dan memperlambat habisnya lahan produktif di Bali.

Bali Fotografer
December 24th, 2008 @5:46 pm  

jadi kapan nih ada jalan layang langsung ke nusa penida, saya dukung 1000000% deh!

*Sabar bli, nanti dibikinin ….he..he.

gussuta
December 26th, 2008 @4:19 pm  

Wah Jalan Layang, Ok banget tuh ! Soalnya 5 th ke depan kalau tidak cepat direalisasikan, saya yakin bali ini akan krodit dengan masalah transportasi.

Kalau perluasan jalan dilakukan dengan pelebaran saja atau pembuatan jalan baru (tidak dibangun Jalan Layang), saya yakin 1000% Bali ini akan habis lahannya dipakai jalan dan akan tumbuhnya toko-toko, supermarket, pompa bensin dll, yang akan merusak budaya bali itu sendiri dan juga lahan pertanian menjadi semakin sempit dan habis.

Kalau Jalan Layang dibangun, maka Bali ini tidak akan kehabisan lahannya untuk jalan, petumbuhan bangunan yang tidak bercirikan Budaya Bali juga tidak lahir, tanah pertanian juga tidak hilang, masalah transportasi juga dapat diatasi.

Mari kita renungkan !!!! Mana lebih cepat RUSAK, Bali dengan dibangun Jalan Layang atau Tidak Dibangun Jalan Layang ???

….*Berarti nunggu Bali rusak dulu baru ketahuan, mana yang benar….he..he!

imsuryawan
January 2nd, 2009 @1:43 pm  

saya kok cenderung mengusulkan dengan mengurangi jumlah kendaraan pribadi ya? jadi mending mengatasinya dengan cara preventif dulu, yaitu menambah transportasi publik, trus mungkin dibarengi dengan menaikkan pajak kendaraan bermotor, atau sekalian membatasi impor kendaraan bermotor. nah, masalahnya adalah… efek sampingnya ke jumlah tenaga kerja yang akan di PHK karena kebijakan2 tadi juga mesti dipikirkan.

Saya pikir entah jalan layang, atau pun subway, tetep saja ga akan efektif, kalau jumlah kendaraan di bali makin banyak…

*Itu mungkin bisa kalau Bali dapet otonomi khusus, kalau nggak, sepertinya susah dibatasin jumlah kendaraannya bli….

imsuryawan
January 2nd, 2009 @1:44 pm  

oya lupa… selamat taun baru…

*Selamat Tahun Baru Juga Bli!

de pringz
January 7th, 2009 @7:13 pm  

Slamet deh buat Teknik Sipil Unhi yang kian terdengar gaungnya.
Wacana dan diskusi tentang jalan layang ini emang kagak ada habisnya ya… Moga-moga cepet ada investor yang mau nanam modal buat itu jembatan layang. Jenuh juga kalo ngomomg-ngomong melulu, ya gak?
Salam super buat temen2ku di Unhi, yang semangat!!!! Trus besok2 kalo ada seminar digratiskan aja ya..hehe..

*De Pringgana ya?….Thank sudah mampir De, oh ya, sorry berat nggak bisa hadir pas Resepsi, Ngucapin Selamat Aja De!

suryacx
January 9th, 2009 @10:47 pm  

klo udah ngomongin budaya apalagi agama, susah nemu ujungnya….

yang ada amalah tambah ribet…..

*Masalah “perasaan” yang memang begitu…

imcw
January 10th, 2009 @11:24 pm  

Tulisannya panjang banget, sampai nyicil saya bacanya.

*Sepanjang usus duabelas jari kok dok..he..he!

rizoa
January 13th, 2009 @3:17 pm  

yang nyicill….. aku komen dl azaaaa :)

*Tareeek maaang!

baliazura
January 16th, 2009 @1:22 pm  

wah sayang diskusinya blom menghasilkan keputusan, sementara jalan udah mulai tersedat

Kendaraan murah
March 11th, 2009 @9:10 am  

Interesting post, i’ve already bookmark this site. Will recommend to my friend also.

Investasi
June 27th, 2009 @10:57 pm  

post yang menarik padat dan sangat berisi dan salam kenal ya, sobat

yogie
April 23rd, 2010 @3:48 am  

Thank you for providing us with this info….

Pingback & Trackback
Pingback from Hujan Bintang di Koran Lokal | Rumah Tulisan in April 15th, 2009 @3:35 pm  
Leave A Reply

Please Note: Comments maybe under moderation after you submit your comments so there is no need to resubmit your comment again

Baliblogger