Disclaimers : Tidak bertanda bintang…he.he.he! (updated!)

Ini hanyalah sudut lain  pada sebuah catatan kecil dari perjalananku bersama teman-teman “pengayah” ke Puspem Jembrana, bukan bermaksud untuk membentuk opini atau membelokkan suatu keyakinan sehubungan dengan “karya gede’ pilgub Juli nanti.

Diawali dari rencana pembentukan sebuah program Kelompok Belajar Executive untuk membantu peningkatan mutu SDM baik untuk kalangan umum maupun pemerintahan, aku ikut sebagai team dalam sosialisasi program tersebut,. Salah satu tujuannya adalah Pemkab Jembrana, sebuah daerah yang saat ini sedang gencar-gencarnya berusaha meningkatkan mutu SDMnya.

Jadilah perjalanan sehari yang cukup berkesan karena disamping acara sosialisasi yang disambut baik ada hal menarik yang bisa didapat misalnya bisa menyaksikan langsung aktivitas dan lingkungan perkantoran di lingkungan Pusat Pemerintahan (Puspem) Jembrana yang kini banyak mendapat sorotan. Walaupun bukan penelusuran yang mendalam, setidaknya dari pengamatan saja sudah nampak perbedaan dibandingkan dengan pusat pemerintahan daerah lain di Bali.

Begitu memasuki lingkungan Puspem, yang pertama dituju adalah sebuah areal central parkir yang cukup luas untuk kendaraan pegawai dan pengunjung. Lokasinya ada disamping lingkungan Puspem, disana disediakan areal untuk mobil dan sepeda motor secara terpisah. Kendaraan operasional pemerintahan diatur sedemikian rupa misalnya kendaraan khusus pejabat semacam Kepala Dinas dan Kabag-kabag dikelompokkan menjadi satu, demikian juga dengan kendaraan lain seperti satpol PP, J-net, JKJ dan lainnya. (kalau ngaturnya kayak gitu pegawainya pasti susah “kabur” .he.he…)

Sampai di pintu masuk utama Puspem, kita akan (dipaksa) memasuki jalur yang cukup sempit semacam jalur antrean di kasir supermarket sampai ke pos satpol PP yang selalu siap menyambut, menanyakan identitas dan keperluan kita berkunjung sekaligus diberikan informasi jika ada yang kita perlukan, tidak lupa juga diberikan kartu tamu/pengunjung yang harus dibawa. Hal ini mencerminkan bagaimana kedisiplinan yang diterapkan disana, tidak seperti di daerah lain dimana begitu bebasnya orang keluar masuk. Tentu saja ini berpengaruh juga kepada perilaku pengawai disana yang tidak mungkin keluar masuk kantor seenaknya tanpa keperluan yang jelas (bolos).

Sampai di dalam sebuah gedung, karena ruangan yang dituju ada dilantai tiga, kami ditunjukkan jalan menuju sebuah lift yang bersih dan nampak sangat terawat, infonya setiap 30 menit lift tersebut selalu dibersihkan dan diperiksa, wah mantap banget untuk ukuran kantor pemerintahan khususnya di Indonesia Sangat berbeda dengan berita yang aku baca hari ini bahwa belum genap sebulan dibuka, lift di Puspem Badung sudah rusak.

Kondisi dalam ruangan pun demikian tertata dan rapi, setiap staf memiliki sebuah meja khusus lengkap dengan nama dan jabatannya, beberapa sudut seperti ruang tunggu, lorong selasar dan lainnya aku lihat keran air minum yang bisa diambil dan diminium langsung dengan bebas. Sementara itu, lembaran-lembaran koran terbaru yang juga juga tertata rapi di ruang tunggu selalu tersedia untuk dibaca sambil menunggu giliran menghadap.

Perilaku pegawai disana juga sangat bagus menurutku, setiap orang sangat berdisiplin baik saat penerimaan tamu, disiplin waktu sampai masalah berpakaian. Menurut informasi dari seorang staf disana, masalah disiplin waktu sangat ditegakkan, setiap orang harus datang dan pergi tepat waktu, tidak boleh meninggalkan mejanya kalau tidak ada keperluan tugas kantor (apalagi buat ngobol-ngobrol atau mejejaitan oleh ibu-ibu..he.he.he). Setiap pagi jam 07.30 wita semua pegawai harus sudah ada di kantor dan jam 16.00 Wita baru boleh pulang. (sepertinya jam kerjanya juga lebih panjang, ditempat lain kalau nggak salah hanya sampai jam 15.30 Wita).

Itu hanya gambaran kecil situasi lingkungan kantor pemerintahan ideal yang memang seharusnya diterapkan dan diikuti semua instansi di Indonesia. Pantas saja banyak komponen pemerintahan daerah lain mau studi banding untuk belajar ke Pemkab Jembrana (kecuali pemerintah kabupaten2 di Bali yang kayaknya gengsi belajar kesana..he.he). Alangkah bagusnya andai saja daerah lain menerapkan hal yang sama, semua staf pegawai menjadi sangat disiplin, semua mengerjakan tugasnya sesuai dengan kapasitasnya sehingga secara langsung produktifitasnya akan meningkat. Dengan sistem operasioanal yang sudah memenuhi standard internasioanal (ISO) seperti itu, bisa-bisa Indonesia akan bisa sejajar dengan Negara-negara maju. Mimpi kali ye...